Skip to main content

sabdaku

Kita pernah berada dalam satu harmoni
menceritakan semua mimpi-mimpi
hiruk pikuk jalanan Jakarta menjadi saksi
kita pernah sedekat nadi

mungkin aku terlalu terlena dan sombong terhadap semesta
aku lupa, bahwa yang indah bisa saja sirna
sudikah kau menjemput rindu yang aku simpan?
atau
pantaskah aku menyimpan rindu untukmu?

ku sebut namamu dalam doa
semesta dan isinya pasti mendengar
rintik hujan membantu menyempurnakan rasaku
yang terlalu dalam untukmu

Comments

Popular posts from this blog

pernah

Pernah jadi bagian penting dalam hidupmu pernah jadi saksi berjuangmu pernah menyanyangimu sedalam itu tapi aku sebatas itu aku sebatas pernah, yang bukan menjadi masih aku belum sempat menyentuh lubuk terdalammu aku belum sempat melihat siapa yang benar-benar ada dalam hatimu tapi dulu, kita menyatu, bersenyawa tapi, kita sebatas itu dan sekarang, kita sebatas kamu dan aku kembali menjadi dua orang yang berjuang sendiri, tanpa perlu disaksikan seorang kecuali semesta

potretmu sangat mengganggu, deh.

Ketika memutuskan untuk mencoba menyembuhkan luka sendiri, yang aku lakukan adalah justru berpura-pura. Berpura-pura biasa saja Berpura-pura bahagia Berpura-pura tidak apa-apa Semua serba pura-pura Tapi, kepura-puraan membawaku menuju kesebuah kebiasaan. Bukan, bukan terbiasa berpura-pura, melainkan, aku sudah biasa untuk biasa saja, bahagia, tidak apa-apa, tanpa harus lagi berpura-pura. Dan ketika aku rasa aku sudah biasa saja terhadap kamu, lantas, mengapa melihat potretmu, masih suka menggetarkan hatiku?