Skip to main content

kelas baru dan demo ekskul

heeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeyyyyyyyyyyyyyyyy gue udah kelas 9 nih haha asik asik. tapi takut juga sih kelas 9, takut sama pelajarannya gitu deh. eh iya anak kelas gue ga asik niiiihhhhhhhh yang cowonya, paling cuma joko memet randy andre doang yang asik, yang lain hmmm -.-


hari pertama perkenalan sama wali kelas pak Moh. Manshur (dia bilang kalo nulis namanya harus kaya gitu) ya kocak sih tapi kadang jayuuuzzzchxc. OHIYA lo musti tau ya guru IPA gue siapa, you know whoooooooooooooooo? yes, she is SULASTRI whaaaaaaaaaaaaatttttttttttttttdeeeeeeeeeeeee??? OhmyGooooooooooooddddddddddddd gue gamau sama diaaaaaa hhh -_______________- tadi aja pas baru banget balajar pertama kali dia udah nanya nanya ke anak-anak sesuai absen gitu, gue udah dag dig dug dwaaar aja deh tuh, tapi untungnya gue ga dapet soalnya absen gue 39! huahahaha asikkkk. terus juga udah di kasih tugas bikin peta konsep tentang ginjal gitu, wtf deeeeeeeeeeeeeeeeeehhhhh gue ga ngerti tau buuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu!!


ohiyaaaaa tadi gue demo ekskul looohhh udah gitu ekskul gue saman dapet giliran terakhir pula ohMyyyyyyyyyyyyyyyy. tapi untungnya sih kita punya banyak waktu buat siap siap kostum make up dll. tadi pas kita udah siap siap di pinggir lapangan mau tampil, gue udah sedih aja tuh soalnya penontonnya udah pada bubar. eh pas di panggilin "ini dia mari sama sama kita saksikan ekskul tari samaaaaaaaaaaaaaaaaaaaannnnn" weeeeeeee langsung penuh mennnnn seneg gue banyak yang nonton huehehehe pada bersorak sorai, bertepuk tangan udah kaya liat artis hahaha bahagia banget gueeeeeeeeeeeeeeeee. terus banyak yang bilang kita samannya keren haha makasih makasih. pokoknya samannya memuaskan deeehh haha




SAMAN XXXI

Comments

Popular posts from this blog

pernah

Pernah jadi bagian penting dalam hidupmu pernah jadi saksi berjuangmu pernah menyanyangimu sedalam itu tapi aku sebatas itu aku sebatas pernah, yang bukan menjadi masih aku belum sempat menyentuh lubuk terdalammu aku belum sempat melihat siapa yang benar-benar ada dalam hatimu tapi dulu, kita menyatu, bersenyawa tapi, kita sebatas itu dan sekarang, kita sebatas kamu dan aku kembali menjadi dua orang yang berjuang sendiri, tanpa perlu disaksikan seorang kecuali semesta

sabdaku

Kita pernah berada dalam satu harmoni menceritakan semua mimpi-mimpi hiruk pikuk jalanan Jakarta menjadi saksi kita pernah sedekat nadi mungkin aku terlalu terlena dan sombong terhadap semesta aku lupa, bahwa yang indah bisa saja sirna sudikah kau menjemput rindu yang aku simpan? atau pantaskah aku menyimpan rindu untukmu? ku sebut namamu dalam doa semesta dan isinya pasti mendengar rintik hujan membantu menyempurnakan rasaku yang terlalu dalam untukmu

potretmu sangat mengganggu, deh.

Ketika memutuskan untuk mencoba menyembuhkan luka sendiri, yang aku lakukan adalah justru berpura-pura. Berpura-pura biasa saja Berpura-pura bahagia Berpura-pura tidak apa-apa Semua serba pura-pura Tapi, kepura-puraan membawaku menuju kesebuah kebiasaan. Bukan, bukan terbiasa berpura-pura, melainkan, aku sudah biasa untuk biasa saja, bahagia, tidak apa-apa, tanpa harus lagi berpura-pura. Dan ketika aku rasa aku sudah biasa saja terhadap kamu, lantas, mengapa melihat potretmu, masih suka menggetarkan hatiku?