Skip to main content

my classmate

IX.8 yes that's my class! hm biasa aja sih, ga begitu asik kaya my 8.6 huhuuuuu kangeeeeeeen :'(
ya paling gue kalo main sama andre joko siti irma yanto ya abisnya cuma mereka yang mau di ajak main kaya bocah haha.


ya mereka suka main jempol bareng gue, kita main kan ber 6 tuh ya tapi rame banget buset sampe teriak teriakan gitu huakakakaka. eh iya, gue joko andre punya tempat makan samaan loohh (gapenting) yang dari Milo itu, tauga? tau dong ya pasti z. jadi tadi pas mau pelajaran mtk kan gurunya datengnya agak lama tuh ya yaudah deh gue makan dulu aja. pas gue makan, eh si joko ikut ikutan, terus andre juga. abis itu JENGJENG! tempat makan kita samaan haha beda warna doang, gue ijo, andre merah, joko kuning wkwkwkwkw kyuuuuuutt ga sih tuh merahkuningijo.



hm hm kalo lagi pelajaran yang bikin kita boseeeeeeeeeeeeen, pasti kita bercanda. tapi kalo lagi pelajaran cuma gue siti joko andre doang yang bercanda, soalnya kan tempat duduk kita depan belakang gitchuuuu. seru deh main sama mereka, serasa di 8.6. tapi tetep 8.6 the best ever!





kiss byee *firra

Comments

Popular posts from this blog

pernah

Pernah jadi bagian penting dalam hidupmu pernah jadi saksi berjuangmu pernah menyanyangimu sedalam itu tapi aku sebatas itu aku sebatas pernah, yang bukan menjadi masih aku belum sempat menyentuh lubuk terdalammu aku belum sempat melihat siapa yang benar-benar ada dalam hatimu tapi dulu, kita menyatu, bersenyawa tapi, kita sebatas itu dan sekarang, kita sebatas kamu dan aku kembali menjadi dua orang yang berjuang sendiri, tanpa perlu disaksikan seorang kecuali semesta

sabdaku

Kita pernah berada dalam satu harmoni menceritakan semua mimpi-mimpi hiruk pikuk jalanan Jakarta menjadi saksi kita pernah sedekat nadi mungkin aku terlalu terlena dan sombong terhadap semesta aku lupa, bahwa yang indah bisa saja sirna sudikah kau menjemput rindu yang aku simpan? atau pantaskah aku menyimpan rindu untukmu? ku sebut namamu dalam doa semesta dan isinya pasti mendengar rintik hujan membantu menyempurnakan rasaku yang terlalu dalam untukmu

potretmu sangat mengganggu, deh.

Ketika memutuskan untuk mencoba menyembuhkan luka sendiri, yang aku lakukan adalah justru berpura-pura. Berpura-pura biasa saja Berpura-pura bahagia Berpura-pura tidak apa-apa Semua serba pura-pura Tapi, kepura-puraan membawaku menuju kesebuah kebiasaan. Bukan, bukan terbiasa berpura-pura, melainkan, aku sudah biasa untuk biasa saja, bahagia, tidak apa-apa, tanpa harus lagi berpura-pura. Dan ketika aku rasa aku sudah biasa saja terhadap kamu, lantas, mengapa melihat potretmu, masih suka menggetarkan hatiku?