Skip to main content

daun pasti gugur

sekuat apapun daun bertahan pada pohonnya, pasti akan selalu ada angin yang berusaha menjatuhkannya. saat daun itu sudah terombang ambing di ranting, dan pohon hanya bisa diam tidak bisa melakukan apa-apa. daunpun akan jatuh ke tanah, dan akan terbang entah kemana terbawa angin yang menjatuhkannya.

Begitupun manusia, sekuat apapun manusia bertahan pada tumpuannya, jika sesuatu yang kuat mendorongnya, dia pasti terlepas. walaupun dia sudah berusaha bertahan dan berjuang, tapi nyatanya... justru tumpuan tersebut yang melepas ikatan kuatnya.

Saat ini, hanya Tuhan yang bisa ia percaya dan iya kuatkan ikatannya. setelah mungkin untuk beberapa saat dia lupa, tapi Tuhan tidak pernah lupa akan umatnya, dan Tuhan pasti selalu menerima umatnya dalam keadaan berdosa sekalipun. Tuhan tidak pernah pilih-pilih dalam mendengar doa hambanya.... percayalah ketika doa telah dilantunkan, sejauh apapun, pasti akan sampai juga.

Don't ever fear to face the truth. hiding yourself in the back of your problem just such a fool. do it. really hard, i know, but it might teach you how to survive and how to face the future. Because, you'll never know what will happen, you just have to create the future. so do i. i will try my best even thought in my very hardest situation. Just believe you can do it

Comments

Popular posts from this blog

pernah

Pernah jadi bagian penting dalam hidupmu pernah jadi saksi berjuangmu pernah menyanyangimu sedalam itu tapi aku sebatas itu aku sebatas pernah, yang bukan menjadi masih aku belum sempat menyentuh lubuk terdalammu aku belum sempat melihat siapa yang benar-benar ada dalam hatimu tapi dulu, kita menyatu, bersenyawa tapi, kita sebatas itu dan sekarang, kita sebatas kamu dan aku kembali menjadi dua orang yang berjuang sendiri, tanpa perlu disaksikan seorang kecuali semesta

sabdaku

Kita pernah berada dalam satu harmoni menceritakan semua mimpi-mimpi hiruk pikuk jalanan Jakarta menjadi saksi kita pernah sedekat nadi mungkin aku terlalu terlena dan sombong terhadap semesta aku lupa, bahwa yang indah bisa saja sirna sudikah kau menjemput rindu yang aku simpan? atau pantaskah aku menyimpan rindu untukmu? ku sebut namamu dalam doa semesta dan isinya pasti mendengar rintik hujan membantu menyempurnakan rasaku yang terlalu dalam untukmu

potretmu sangat mengganggu, deh.

Ketika memutuskan untuk mencoba menyembuhkan luka sendiri, yang aku lakukan adalah justru berpura-pura. Berpura-pura biasa saja Berpura-pura bahagia Berpura-pura tidak apa-apa Semua serba pura-pura Tapi, kepura-puraan membawaku menuju kesebuah kebiasaan. Bukan, bukan terbiasa berpura-pura, melainkan, aku sudah biasa untuk biasa saja, bahagia, tidak apa-apa, tanpa harus lagi berpura-pura. Dan ketika aku rasa aku sudah biasa saja terhadap kamu, lantas, mengapa melihat potretmu, masih suka menggetarkan hatiku?