Skip to main content

bukan tentang senja, hanya, sedikit, bolehkan?

Tidak perlu kata yang harus diucap
Tidak perlu pula menekankan apa yang mau kau maksudkan
Aku hanya belum siap untuk mengetahui kemungkinan terburuk yang mungkin akan kudengar
Siapkah aku?
belum tentu, aku tidak sesiap itu

Tapi, taukah kamu arti penasaran?
Hanya, terkadang, menjadi tidak tau itu menenangkan
Walaupun kadang, suka kepikiran juga.

Aku bagai menunggu senja dipagi hari.
Lama sekali datangnya
Senja selalu indah, walaupun hanya numpang lewat
Tapi, suka dinikmati beberapa orang, termasuk aku

Senja, bisakah kau datang lebih lama?

Comments

Popular posts from this blog

pernah

Pernah jadi bagian penting dalam hidupmu pernah jadi saksi berjuangmu pernah menyanyangimu sedalam itu tapi aku sebatas itu aku sebatas pernah, yang bukan menjadi masih aku belum sempat menyentuh lubuk terdalammu aku belum sempat melihat siapa yang benar-benar ada dalam hatimu tapi dulu, kita menyatu, bersenyawa tapi, kita sebatas itu dan sekarang, kita sebatas kamu dan aku kembali menjadi dua orang yang berjuang sendiri, tanpa perlu disaksikan seorang kecuali semesta

sabdaku

Kita pernah berada dalam satu harmoni menceritakan semua mimpi-mimpi hiruk pikuk jalanan Jakarta menjadi saksi kita pernah sedekat nadi mungkin aku terlalu terlena dan sombong terhadap semesta aku lupa, bahwa yang indah bisa saja sirna sudikah kau menjemput rindu yang aku simpan? atau pantaskah aku menyimpan rindu untukmu? ku sebut namamu dalam doa semesta dan isinya pasti mendengar rintik hujan membantu menyempurnakan rasaku yang terlalu dalam untukmu

potretmu sangat mengganggu, deh.

Ketika memutuskan untuk mencoba menyembuhkan luka sendiri, yang aku lakukan adalah justru berpura-pura. Berpura-pura biasa saja Berpura-pura bahagia Berpura-pura tidak apa-apa Semua serba pura-pura Tapi, kepura-puraan membawaku menuju kesebuah kebiasaan. Bukan, bukan terbiasa berpura-pura, melainkan, aku sudah biasa untuk biasa saja, bahagia, tidak apa-apa, tanpa harus lagi berpura-pura. Dan ketika aku rasa aku sudah biasa saja terhadap kamu, lantas, mengapa melihat potretmu, masih suka menggetarkan hatiku?