Skip to main content

Bukan terlena, tapi terlanjur, bisa apa?

Seperti berdayung diair keruh
Seperti terbang diawan mendung
Tak bisakah kau merasakan dua hal secara bersamaan itu?
Kau tau kau bahagia
bagaimana tidak, kau terbang dan berlayar
Menimati heningnya dunia
kau bersombong pada semesta seolah kau penguasa
Namun disaat yang sama, disaat kau bahagua
Kau tau, ada yang menahanmu agar kau tidak bahagia
Berdayung diair keruh, sulit. Tapi kau suka, akupun juga
Terbang diawan mendung. Kau melayang, namun au tau, jalan kau tak semulus itu
lantas, siapkah kau tenggelam? Atau bahkan, terjatuh?
Jangan terlalu terlena...
Semua kebahagiaan, pasti akan habis juga
Siapkan dirimu
Siapkan hatimu
Sakit, memang konsekuensi dari cinta
Cinta memang pandai bersembunyi
Dibalik airmata sekalipun

Comments

Popular posts from this blog

pernah

Pernah jadi bagian penting dalam hidupmu pernah jadi saksi berjuangmu pernah menyanyangimu sedalam itu tapi aku sebatas itu aku sebatas pernah, yang bukan menjadi masih aku belum sempat menyentuh lubuk terdalammu aku belum sempat melihat siapa yang benar-benar ada dalam hatimu tapi dulu, kita menyatu, bersenyawa tapi, kita sebatas itu dan sekarang, kita sebatas kamu dan aku kembali menjadi dua orang yang berjuang sendiri, tanpa perlu disaksikan seorang kecuali semesta

kembali

terlalu banyak kehilangan yang dirasakan manusia saat ini. kehilangan pekerjaan, kehilangan orang yang yang dicintai, kehilangan tempat tinggal, pun kehilangan kepercayaan. Tidakkah kehilangan itu adalah sebuah kepastian? aku pernah merasakan kehilangan, pasti. tapi, aku tau tingkat sedih yang kita hadapi berbeda. aku pernah hampir gila karena merasa kehilangan seseorang. tapi aku selalu percaya, apapun bentuk kesedihan yang dihadapi, semua sementara. aku sempat merasa menjadi tempat singgah seseorang yang salah mengartikan definisi rumah. sampai akhirnya, aku kembali menemukan rumahku sendiri, tanpa banyak usaha, tanpa banyak cara, aku percaya bahwa, dia, memang rumah. ketika aku memutuskan untuk kembali, aku tau apa yang akan aku hadapi, tapi saat ini, aku bukan aku yang sama seperti 8 tahun lalu saat memilih untuk pergi. aku kembali, kepada dia yang aku percaya bisa membawaku melihat luasnya dunia dan menuliskan kembali cerita kita yang sempat tertunda. aku siap melangkah membawa di...

sabdaku

Kita pernah berada dalam satu harmoni menceritakan semua mimpi-mimpi hiruk pikuk jalanan Jakarta menjadi saksi kita pernah sedekat nadi mungkin aku terlalu terlena dan sombong terhadap semesta aku lupa, bahwa yang indah bisa saja sirna sudikah kau menjemput rindu yang aku simpan? atau pantaskah aku menyimpan rindu untukmu? ku sebut namamu dalam doa semesta dan isinya pasti mendengar rintik hujan membantu menyempurnakan rasaku yang terlalu dalam untukmu