Skip to main content

Bukan terlena, tapi terlanjur, bisa apa?

Seperti berdayung diair keruh
Seperti terbang diawan mendung
Tak bisakah kau merasakan dua hal secara bersamaan itu?
Kau tau kau bahagia
bagaimana tidak, kau terbang dan berlayar
Menimati heningnya dunia
kau bersombong pada semesta seolah kau penguasa
Namun disaat yang sama, disaat kau bahagua
Kau tau, ada yang menahanmu agar kau tidak bahagia
Berdayung diair keruh, sulit. Tapi kau suka, akupun juga
Terbang diawan mendung. Kau melayang, namun au tau, jalan kau tak semulus itu
lantas, siapkah kau tenggelam? Atau bahkan, terjatuh?
Jangan terlalu terlena...
Semua kebahagiaan, pasti akan habis juga
Siapkan dirimu
Siapkan hatimu
Sakit, memang konsekuensi dari cinta
Cinta memang pandai bersembunyi
Dibalik airmata sekalipun

Comments

Popular posts from this blog

pernah

Pernah jadi bagian penting dalam hidupmu pernah jadi saksi berjuangmu pernah menyanyangimu sedalam itu tapi aku sebatas itu aku sebatas pernah, yang bukan menjadi masih aku belum sempat menyentuh lubuk terdalammu aku belum sempat melihat siapa yang benar-benar ada dalam hatimu tapi dulu, kita menyatu, bersenyawa tapi, kita sebatas itu dan sekarang, kita sebatas kamu dan aku kembali menjadi dua orang yang berjuang sendiri, tanpa perlu disaksikan seorang kecuali semesta

sabdaku

Kita pernah berada dalam satu harmoni menceritakan semua mimpi-mimpi hiruk pikuk jalanan Jakarta menjadi saksi kita pernah sedekat nadi mungkin aku terlalu terlena dan sombong terhadap semesta aku lupa, bahwa yang indah bisa saja sirna sudikah kau menjemput rindu yang aku simpan? atau pantaskah aku menyimpan rindu untukmu? ku sebut namamu dalam doa semesta dan isinya pasti mendengar rintik hujan membantu menyempurnakan rasaku yang terlalu dalam untukmu

potretmu sangat mengganggu, deh.

Ketika memutuskan untuk mencoba menyembuhkan luka sendiri, yang aku lakukan adalah justru berpura-pura. Berpura-pura biasa saja Berpura-pura bahagia Berpura-pura tidak apa-apa Semua serba pura-pura Tapi, kepura-puraan membawaku menuju kesebuah kebiasaan. Bukan, bukan terbiasa berpura-pura, melainkan, aku sudah biasa untuk biasa saja, bahagia, tidak apa-apa, tanpa harus lagi berpura-pura. Dan ketika aku rasa aku sudah biasa saja terhadap kamu, lantas, mengapa melihat potretmu, masih suka menggetarkan hatiku?