Skip to main content

bahagialah kamu

Terlalu banyak yang mengganggu pikiranku selama beberapa waktu belakangan ini. Membuat jemari lupa untuk menyentuh keyboard laptop untuk sekedar bercerita. Ingin sejenak aku pergi, menikmati deru angin, sendiri. Bertanya kepada semesta, apakah ia turut bertanggung jawab atas apa yang sedang aku alami saat ini?

Cerita terakhirku menunjukkan betapa bahagianya aku saat itu, saat aku masih memilikimu, saat bahagiaku adalah kamu. Tapi ternyata, keadaan tidak memihak pada kebahagianku yang aku definisikan sebagai kamu. Kamu, yang selalu kusebut dalam doaku, memilih mencari kebahagianmu sendiri. Tanpa aku, yang katamu, telah menyakiti hatimu.

Putus cinta, rasanya masih sama. sakit ya? hehe.

hehe.

Aku tidak butuh seseorang untuk membantuku menyembuhkan luka ini. Akan jauh lebih baik jika aku berusaha menyembuhkan lukaku sendiri. Tidak sopan rasanya menyuruh orang lain bertanggung jawab atas lukaku yang dibuat oleh kamu. Lebih baik, ketika aku sudah benar-benar baik, baru aku mencoba memulai kembali.

Aku meyakini, kepergianmu saat itu bukan suatu ketiba-tibaan. Aku yakin, kamu sudah merencanakan untuk menginggalkanku. Pahamilah, sayang, kamu terlalu anak-anak untuk bertingkah seperti sedia kala.

Sekarang, luka yang kamu torehkan masih sangat terasa. Membuatku merasa belum mampu untuk kembali menjalin sebuah kisah cinta. Tapi, taukah kamu, sempat ada seseorang yang mencoba menghampiriku, tapi, selalu, kubandingkan dengan kebaikanmu. Jahat sekali ya, kamu? Teganya kamu meninggalkan kenangan yang begitu sulit dihapuskan...


Tapi sekarang, janganlah kamiu berfikir aku masih mengharapkan kebahagiaan darimu. Karna, definisi bahagiaku sudah bukan lagi kamu. Dan ketika namamu keluar dalam doaku, bukan lagi tentang kebahagianmu, melainkan aku meminta untuk menghapuskan namamu dari benakku.

Selamat mencari bahagiamu sendiri, ya.

Comments

Popular posts from this blog

pernah

Pernah jadi bagian penting dalam hidupmu pernah jadi saksi berjuangmu pernah menyanyangimu sedalam itu tapi aku sebatas itu aku sebatas pernah, yang bukan menjadi masih aku belum sempat menyentuh lubuk terdalammu aku belum sempat melihat siapa yang benar-benar ada dalam hatimu tapi dulu, kita menyatu, bersenyawa tapi, kita sebatas itu dan sekarang, kita sebatas kamu dan aku kembali menjadi dua orang yang berjuang sendiri, tanpa perlu disaksikan seorang kecuali semesta

sabdaku

Kita pernah berada dalam satu harmoni menceritakan semua mimpi-mimpi hiruk pikuk jalanan Jakarta menjadi saksi kita pernah sedekat nadi mungkin aku terlalu terlena dan sombong terhadap semesta aku lupa, bahwa yang indah bisa saja sirna sudikah kau menjemput rindu yang aku simpan? atau pantaskah aku menyimpan rindu untukmu? ku sebut namamu dalam doa semesta dan isinya pasti mendengar rintik hujan membantu menyempurnakan rasaku yang terlalu dalam untukmu

potretmu sangat mengganggu, deh.

Ketika memutuskan untuk mencoba menyembuhkan luka sendiri, yang aku lakukan adalah justru berpura-pura. Berpura-pura biasa saja Berpura-pura bahagia Berpura-pura tidak apa-apa Semua serba pura-pura Tapi, kepura-puraan membawaku menuju kesebuah kebiasaan. Bukan, bukan terbiasa berpura-pura, melainkan, aku sudah biasa untuk biasa saja, bahagia, tidak apa-apa, tanpa harus lagi berpura-pura. Dan ketika aku rasa aku sudah biasa saja terhadap kamu, lantas, mengapa melihat potretmu, masih suka menggetarkan hatiku?