Skip to main content

Inner circle

Lingkaran pertemanan di setiap perjalanan hidup seorang anak manusia memang akan selalu bertambah besar. Pun yang aku rasakan hampir di setiap saat. Berkenalan dengan individu baru, bahkan yang kita tidak sangka-sangka akan menjadi seorang teman.


Kecanggihan teknologi saat ini (re: sosial media) membuat pertambahan lingkaran pertemanan tersebut menjadi lebih mudah untuk bertambah. Banyak dari mereka yang memanggil individu lain dengan sebutan "teman" hanya karna berteman di platform sosial media.


Tidak aku pungkiri, bahwa pertemananku memiliki taste yang berbeda dengan pertemananmu. Seru menurutku, belun tentu seru menurutmu, kan? Bisa dikatakan, aku memiliki lebih dari 1 lingkaran pertemanan. Masing-masing dari mereka memiliki cara bermain yang berbeda. Ada yang hanya suka pergi ke mall untuk sekedar melihat2 atau duduk2 cantik, ada yang selalu memberiku nasihat2 agama, bahkan, ada pula yang suka dengan kehidupan malam. Aku, menyesuaikan sedang berada dalam lingkaran yang mana.


Yang membuatku saat ini berfikir sehingga memutuskan untuk berbagi kepada kalian adalah, apakah semua lingkaran pertemanan sempit kalian bisa dikatakan sebagai sahabat? Menurutku, tidak. Sekali lagi, ini menurutku, aku tidak memaksa atau menyetir kalian untuk berfikiran sama, ya.


Memang, dia yang aku anggap sahabat bukan berarti dia yang nengenalku paling lama. Tidak. Ada beberapa orang yang sudah aku anggap sahabat padahal kita belum genap 2 tahun kenal satu sama lain. Tapi, aku tidak memungkiri, bahwa, dia yang paling lama berteman denganku adalah dia yang lebih mengenal celah-celah dalam diriku.


Aku percaya, tidak ada sahabat yang tidak ingin memberikan kebahagiaan untuk sahabatnya. Mereka pasti berusaha. Tapi, jika pada akhirnya usaha tersebut hanya untuk formalitas dan bukan krn mereka memang niat membuat bahagia, bagainana?


Semakin aku dewasa, semakin aku mengerti, bahwa sahabat tidak akan pernah meninggalkan, walaupun tau sifat paling buruk sahabatnya. Dan mereka yang aku anggap -awalnya- sahabat, ternyata hanya lingkaran kecil pertemananku.











Satu lagi jenis pertemananku yang tertinggal, mereka yang memanggilku hanya karna butuh bantuanku.

Comments

Popular posts from this blog

pernah

Pernah jadi bagian penting dalam hidupmu pernah jadi saksi berjuangmu pernah menyanyangimu sedalam itu tapi aku sebatas itu aku sebatas pernah, yang bukan menjadi masih aku belum sempat menyentuh lubuk terdalammu aku belum sempat melihat siapa yang benar-benar ada dalam hatimu tapi dulu, kita menyatu, bersenyawa tapi, kita sebatas itu dan sekarang, kita sebatas kamu dan aku kembali menjadi dua orang yang berjuang sendiri, tanpa perlu disaksikan seorang kecuali semesta

sabdaku

Kita pernah berada dalam satu harmoni menceritakan semua mimpi-mimpi hiruk pikuk jalanan Jakarta menjadi saksi kita pernah sedekat nadi mungkin aku terlalu terlena dan sombong terhadap semesta aku lupa, bahwa yang indah bisa saja sirna sudikah kau menjemput rindu yang aku simpan? atau pantaskah aku menyimpan rindu untukmu? ku sebut namamu dalam doa semesta dan isinya pasti mendengar rintik hujan membantu menyempurnakan rasaku yang terlalu dalam untukmu

potretmu sangat mengganggu, deh.

Ketika memutuskan untuk mencoba menyembuhkan luka sendiri, yang aku lakukan adalah justru berpura-pura. Berpura-pura biasa saja Berpura-pura bahagia Berpura-pura tidak apa-apa Semua serba pura-pura Tapi, kepura-puraan membawaku menuju kesebuah kebiasaan. Bukan, bukan terbiasa berpura-pura, melainkan, aku sudah biasa untuk biasa saja, bahagia, tidak apa-apa, tanpa harus lagi berpura-pura. Dan ketika aku rasa aku sudah biasa saja terhadap kamu, lantas, mengapa melihat potretmu, masih suka menggetarkan hatiku?