Skip to main content

poem(s)

derasnya hujan menemani malamku
mempermudah kinerja otakku ketika secara alamiah berfikir tentangmu
terlintas bayangmu, bayangku, bayang kita yang masih menyatu
tidak mau terperangkap lama dalam nostalgia, kemudian aku tau
bahwa semua, telah terpecah tak lagi satu
-sf-


kembali aku terbangun dalam keadaan sendu
semua penuh abu-abu
kehadiranmu
perhatianmu
tutur katamu
yang awalnya membuatku teduh, kini layu
apakah ini sinyal darimu?
agar aku bersiap diri, untuk kembali menjadi debu
-sf-


matahari menyapa
ku balas dengan tawa
kopi pertama di hari Selasa
ku seruput dengan manja
aromanya menyeruak, seolah memberi tanda
bahwa yang pahit, juga bisa membuat bahagia
-sf-


jangan terlalu banyak bertanya, hei Dara
kadang kata sudah tidak bermakna
ketika hati dipenuhi oleh dusta
pergilah saja
bahagiamu, tidak padanya
-sf-


Bukan cuma soal cinta
melainkan juga rasa
ohya, pun dengan asa
sepucuk asa yang berakhir luka
karena kamu, lupa
bahwa mimpi dan cita-cita kita
telah serna
akibat kamu, yang terlalu terlena
-sf-

Comments

Popular posts from this blog

pernah

Pernah jadi bagian penting dalam hidupmu pernah jadi saksi berjuangmu pernah menyanyangimu sedalam itu tapi aku sebatas itu aku sebatas pernah, yang bukan menjadi masih aku belum sempat menyentuh lubuk terdalammu aku belum sempat melihat siapa yang benar-benar ada dalam hatimu tapi dulu, kita menyatu, bersenyawa tapi, kita sebatas itu dan sekarang, kita sebatas kamu dan aku kembali menjadi dua orang yang berjuang sendiri, tanpa perlu disaksikan seorang kecuali semesta

kembali

terlalu banyak kehilangan yang dirasakan manusia saat ini. kehilangan pekerjaan, kehilangan orang yang yang dicintai, kehilangan tempat tinggal, pun kehilangan kepercayaan. Tidakkah kehilangan itu adalah sebuah kepastian? aku pernah merasakan kehilangan, pasti. tapi, aku tau tingkat sedih yang kita hadapi berbeda. aku pernah hampir gila karena merasa kehilangan seseorang. tapi aku selalu percaya, apapun bentuk kesedihan yang dihadapi, semua sementara. aku sempat merasa menjadi tempat singgah seseorang yang salah mengartikan definisi rumah. sampai akhirnya, aku kembali menemukan rumahku sendiri, tanpa banyak usaha, tanpa banyak cara, aku percaya bahwa, dia, memang rumah. ketika aku memutuskan untuk kembali, aku tau apa yang akan aku hadapi, tapi saat ini, aku bukan aku yang sama seperti 8 tahun lalu saat memilih untuk pergi. aku kembali, kepada dia yang aku percaya bisa membawaku melihat luasnya dunia dan menuliskan kembali cerita kita yang sempat tertunda. aku siap melangkah membawa di...

sabdaku

Kita pernah berada dalam satu harmoni menceritakan semua mimpi-mimpi hiruk pikuk jalanan Jakarta menjadi saksi kita pernah sedekat nadi mungkin aku terlalu terlena dan sombong terhadap semesta aku lupa, bahwa yang indah bisa saja sirna sudikah kau menjemput rindu yang aku simpan? atau pantaskah aku menyimpan rindu untukmu? ku sebut namamu dalam doa semesta dan isinya pasti mendengar rintik hujan membantu menyempurnakan rasaku yang terlalu dalam untukmu