Skip to main content

Kamu hiidup untuk apa, sih?

jadi, hidup hanya sekali, atau mati yang hanya sekali?

Menurut saya, mati yang hanya sekali. hidup, setiap hari, selagi kita masih diberi kesempatan oleh Sang Empunya Kuasa. Lantas bagaimana kita, sebagai anak Adam, memaknai arti kehidupan?

Di dalam kehidupan, banyak sekali pertanyaan saya, bisa jadi gila saya mencari jawabannya. Pertanyaan sesederhana "Apa tujuan saya menjalani kehidupan?" sukses? masuk surga? bahagiain orang tua? ada lagi yang lain?
Lalu, definisi sukses itu bagaimana? apa kesuksesan hanya diukur dari materi? saya rasa, lebih dari itu. Sukses, bahagia, menurut saya, merupakan rasa yang datang dari hati.

Hidup bukan cuma perkara bahagia, nelangsa, atau sebangsanya
Hidup bukan cuma perkara cinta, kasih sayang, dan teman-temannya

Kita bagaikan nahkoda yang sedang berada ditengah lautan, kita yang punya kuasa atas kapal yang sedang kita jalankan. Pun sama halnya dengan kehidupan, kita yang punya kuasa atas apa yang akan kita lakukan dalam hidup ini.

Tapi, bagaimana jika kita tidak mencintai apa yang sedang kita lakukan di dalam hidup ini? Lalu, apa arti sesungguhnya dari quote "love what you do and do what you love?" saya setuju untuk bagian "do what you love" tetapi untuk mencintai sesuatu yang sebenarnya kita tidak suka, bagaimana? apa kita masih bisa merasa benar-benar hidup? bahagia? 
Menurut saya, yes, you can. Percayalah, sumber bahagia datangnya dari banyak aspek. Dan saya percaya, lingkaran hidup kamu, luas, lingkaran teman-teman dan media pendukung lainnya yang ada di hidup kamu, bisa membantu kamu untuk lebih menikmati kehidupan kamu. 

Saya pun masih berusaha untuk menikmati kehidupan saya. Bukan pasrah, saya tetap berusaha memperbaiki yang tidak baik yang ada dalam hidup saya, tetapi yang ada sekarang, saya coba nikmati

Bersyukur
Bersyukur
Bersyukur


 

Comments

Unknown said…
This comment has been removed by the author.

Popular posts from this blog

pernah

Pernah jadi bagian penting dalam hidupmu pernah jadi saksi berjuangmu pernah menyanyangimu sedalam itu tapi aku sebatas itu aku sebatas pernah, yang bukan menjadi masih aku belum sempat menyentuh lubuk terdalammu aku belum sempat melihat siapa yang benar-benar ada dalam hatimu tapi dulu, kita menyatu, bersenyawa tapi, kita sebatas itu dan sekarang, kita sebatas kamu dan aku kembali menjadi dua orang yang berjuang sendiri, tanpa perlu disaksikan seorang kecuali semesta

sabdaku

Kita pernah berada dalam satu harmoni menceritakan semua mimpi-mimpi hiruk pikuk jalanan Jakarta menjadi saksi kita pernah sedekat nadi mungkin aku terlalu terlena dan sombong terhadap semesta aku lupa, bahwa yang indah bisa saja sirna sudikah kau menjemput rindu yang aku simpan? atau pantaskah aku menyimpan rindu untukmu? ku sebut namamu dalam doa semesta dan isinya pasti mendengar rintik hujan membantu menyempurnakan rasaku yang terlalu dalam untukmu

potretmu sangat mengganggu, deh.

Ketika memutuskan untuk mencoba menyembuhkan luka sendiri, yang aku lakukan adalah justru berpura-pura. Berpura-pura biasa saja Berpura-pura bahagia Berpura-pura tidak apa-apa Semua serba pura-pura Tapi, kepura-puraan membawaku menuju kesebuah kebiasaan. Bukan, bukan terbiasa berpura-pura, melainkan, aku sudah biasa untuk biasa saja, bahagia, tidak apa-apa, tanpa harus lagi berpura-pura. Dan ketika aku rasa aku sudah biasa saja terhadap kamu, lantas, mengapa melihat potretmu, masih suka menggetarkan hatiku?