Skip to main content

a letter

sekuat apapun aku memaksa kamu pulang, aku ngga akan bisa, karna rumahmu memang bukan di sini.

sejak awal, aku yang salah membaca tentang kamu, aku kira, kamu sepakat untuk membangun cerita bersama, ternyata, belum sempat kita menorehkan bahagia, kamu memilih untuk menciptakan bahagiamu sendiri

berjuang samasama, itu yang kamu katakan padaku di awal masa masa kita jatuh cinta, nyatanya, berjuang bersama bukan yang kamu pilih pada akhir cerita kita. 

kamu tidak mengizinkan diri kamu untuk hadirnya aku, untuk berjuang bersamaku, kamu memilih melepasku yang memang sebenarnya tidak kamu ikat dengan utuh.

salahku terlalu percaya dengan semua yang kamu katakan, maklum, namanya juga jatuh cinta, tapi aku belajar bahwa kita tidak boleh terlalu percaya, salahku, terlalu yakin bahwa kamu jawaban atas doaku, ternyata, kamu hanya ujian yang harus aku lewati dulu sebelum aku mendapat hasil terbaikku.

terima kasih ya? untuk semua yang hampir kita ciptakan bersama, tapi nyatanya, kita tidak menghasilkan apa-apa. aku gagal. lagi.

Comments

Popular posts from this blog

pernah

Pernah jadi bagian penting dalam hidupmu pernah jadi saksi berjuangmu pernah menyanyangimu sedalam itu tapi aku sebatas itu aku sebatas pernah, yang bukan menjadi masih aku belum sempat menyentuh lubuk terdalammu aku belum sempat melihat siapa yang benar-benar ada dalam hatimu tapi dulu, kita menyatu, bersenyawa tapi, kita sebatas itu dan sekarang, kita sebatas kamu dan aku kembali menjadi dua orang yang berjuang sendiri, tanpa perlu disaksikan seorang kecuali semesta

sabdaku

Kita pernah berada dalam satu harmoni menceritakan semua mimpi-mimpi hiruk pikuk jalanan Jakarta menjadi saksi kita pernah sedekat nadi mungkin aku terlalu terlena dan sombong terhadap semesta aku lupa, bahwa yang indah bisa saja sirna sudikah kau menjemput rindu yang aku simpan? atau pantaskah aku menyimpan rindu untukmu? ku sebut namamu dalam doa semesta dan isinya pasti mendengar rintik hujan membantu menyempurnakan rasaku yang terlalu dalam untukmu

potretmu sangat mengganggu, deh.

Ketika memutuskan untuk mencoba menyembuhkan luka sendiri, yang aku lakukan adalah justru berpura-pura. Berpura-pura biasa saja Berpura-pura bahagia Berpura-pura tidak apa-apa Semua serba pura-pura Tapi, kepura-puraan membawaku menuju kesebuah kebiasaan. Bukan, bukan terbiasa berpura-pura, melainkan, aku sudah biasa untuk biasa saja, bahagia, tidak apa-apa, tanpa harus lagi berpura-pura. Dan ketika aku rasa aku sudah biasa saja terhadap kamu, lantas, mengapa melihat potretmu, masih suka menggetarkan hatiku?