Skip to main content

kisah klasik untuk masa depan

jumat, 28 oktober 2011 itu hari kita banget. kita? kita siapa? kita 2013! 38 2013. kalian tau apa... hari itu salah satu 2013 ulang tahun, Tito Wicaksono. HAPPY BIRTHDAY TITOETOET!!!:D dan hari itu kita kasih surprise ke Tito, tapi kali ini surprisenya beda guys.

kita pagi-pagi sebelum kesekolah kita kerumah Tito dulu tuh rame2 adalah 35-40an orang buat ngasih kejutan uktah ketito. dateng rombongan udah kaya mau tubir grebek rumah tito teriak2 happy birthday segala macem hahahah tapi kalian tau ngga.... itu hari sekolah dan kita telat:\ akhirnya jam 7 kita chaw dari rumah tito rombongan kesekolah dan gerbang udah ditutup... terus pak rahmat alias kepsek langsung keluar dan yaa biasalah dimarahin

terus kita semua ber 35-40an orang itu baris perkelas dan guru-guru langsung pada keliuar dari ruang guru ngeliat tingkah kita yang kalo menurut kita sih caem bener hahahah akhirnya semua didata diceramahin dan terussss... dipanggil orangtuanya-_- lbyabis nih sekolahan. akhirnya hari jumat itu gue cuma belajar 2jam pelajaran terakhir hahahah pokoknya kejadian ini ngga akan gue lupain, 2013 emang bener2 deh haha makin cinta banget. jadikanlah kisah ini kisah klasik untuk masa depan;)

  
foto dulu sebelum berangkat sekolah;)

Comments

Popular posts from this blog

pernah

Pernah jadi bagian penting dalam hidupmu pernah jadi saksi berjuangmu pernah menyanyangimu sedalam itu tapi aku sebatas itu aku sebatas pernah, yang bukan menjadi masih aku belum sempat menyentuh lubuk terdalammu aku belum sempat melihat siapa yang benar-benar ada dalam hatimu tapi dulu, kita menyatu, bersenyawa tapi, kita sebatas itu dan sekarang, kita sebatas kamu dan aku kembali menjadi dua orang yang berjuang sendiri, tanpa perlu disaksikan seorang kecuali semesta

sabdaku

Kita pernah berada dalam satu harmoni menceritakan semua mimpi-mimpi hiruk pikuk jalanan Jakarta menjadi saksi kita pernah sedekat nadi mungkin aku terlalu terlena dan sombong terhadap semesta aku lupa, bahwa yang indah bisa saja sirna sudikah kau menjemput rindu yang aku simpan? atau pantaskah aku menyimpan rindu untukmu? ku sebut namamu dalam doa semesta dan isinya pasti mendengar rintik hujan membantu menyempurnakan rasaku yang terlalu dalam untukmu

potretmu sangat mengganggu, deh.

Ketika memutuskan untuk mencoba menyembuhkan luka sendiri, yang aku lakukan adalah justru berpura-pura. Berpura-pura biasa saja Berpura-pura bahagia Berpura-pura tidak apa-apa Semua serba pura-pura Tapi, kepura-puraan membawaku menuju kesebuah kebiasaan. Bukan, bukan terbiasa berpura-pura, melainkan, aku sudah biasa untuk biasa saja, bahagia, tidak apa-apa, tanpa harus lagi berpura-pura. Dan ketika aku rasa aku sudah biasa saja terhadap kamu, lantas, mengapa melihat potretmu, masih suka menggetarkan hatiku?