Skip to main content

behaviour

ketika kita mendapat sebuah perlakuan 'manis' dari seseorang, atau lebih tepatnya dari lawan jenis ada banyak kemungkinan yang terjadi. entah itu iseng, bercanda, serius, lebih serius, atau cm pengen deket as a friend. semuanya mungkin, dan gada yang tau selain orang itu sendiri. kita yang diperlakukan seperti itu cuma bisa menerka nerka dong, trs kita terima aja diperlakukan baik. eh ngga, tergantung sih... ada juga yang diperlakukan baik tapi ngga direspon, tergantung pribadi masing2 aja:)

gue pernah ngerasain diperlakukan baik oleh seseorang (bukan pacar) kurang lebih selama 2bulan...2bulan non stop ada ajaaa bahan obrolan dan ngga bikin bosen. sampe akhirnya gue menerka nerka sendiri.......huftzzzzzzzz sampe suatuhari, gue berada dititik dimana he made less his attention. rada kehilangan? pasti. mungkin bukan rada, tapi banget. dan disaat itu masuklah orang lain yang meperlakukan gue sama halnya kaya yang the other one. saat itu gue merasa kaya 'pas banget sih' gitu...sampe akhirnya the other one itu dateng lagi BUT ngga sesering dulu. yupz. gue pun merubah status single gue jadi in a relationship dengan seseorang yang tbtb masuk itu...seneng?tentu. sayang?sayang. tapi ada suatu sudut diotak gue yang 'ah, bener ngga sih nih' alhasil gue jalanin kehidupan gue pada waktu itu dan gue 'seolah' meninggalkan kehidupan gue yang lama. pada saat itu, gue kaya jadi orang musuhan sm si the other one. udah sama sekali lost contact, sampe pada suatu hari semuanya berjalan jauh lebih baik. jauh. dan sampe detik ini, insya Allah semuanya lebih baik,. dan sekarang gue tau, perlakuan seorang sahabat emang terkadang sangat amat dibutuhkan.

your final result depends on your behaviour.:) 


jadi, jalanin aja yang ada sekarang. enjoy the life. intinya dari postingan gue kali iini gue cm mau bilang, i found my new bestfriend. yes bestfriend.thankyou, you.

Comments

Popular posts from this blog

pernah

Pernah jadi bagian penting dalam hidupmu pernah jadi saksi berjuangmu pernah menyanyangimu sedalam itu tapi aku sebatas itu aku sebatas pernah, yang bukan menjadi masih aku belum sempat menyentuh lubuk terdalammu aku belum sempat melihat siapa yang benar-benar ada dalam hatimu tapi dulu, kita menyatu, bersenyawa tapi, kita sebatas itu dan sekarang, kita sebatas kamu dan aku kembali menjadi dua orang yang berjuang sendiri, tanpa perlu disaksikan seorang kecuali semesta

sabdaku

Kita pernah berada dalam satu harmoni menceritakan semua mimpi-mimpi hiruk pikuk jalanan Jakarta menjadi saksi kita pernah sedekat nadi mungkin aku terlalu terlena dan sombong terhadap semesta aku lupa, bahwa yang indah bisa saja sirna sudikah kau menjemput rindu yang aku simpan? atau pantaskah aku menyimpan rindu untukmu? ku sebut namamu dalam doa semesta dan isinya pasti mendengar rintik hujan membantu menyempurnakan rasaku yang terlalu dalam untukmu

potretmu sangat mengganggu, deh.

Ketika memutuskan untuk mencoba menyembuhkan luka sendiri, yang aku lakukan adalah justru berpura-pura. Berpura-pura biasa saja Berpura-pura bahagia Berpura-pura tidak apa-apa Semua serba pura-pura Tapi, kepura-puraan membawaku menuju kesebuah kebiasaan. Bukan, bukan terbiasa berpura-pura, melainkan, aku sudah biasa untuk biasa saja, bahagia, tidak apa-apa, tanpa harus lagi berpura-pura. Dan ketika aku rasa aku sudah biasa saja terhadap kamu, lantas, mengapa melihat potretmu, masih suka menggetarkan hatiku?