Skip to main content

Posts

Showing posts from 2017

sabdaku

Kita pernah berada dalam satu harmoni menceritakan semua mimpi-mimpi hiruk pikuk jalanan Jakarta menjadi saksi kita pernah sedekat nadi mungkin aku terlalu terlena dan sombong terhadap semesta aku lupa, bahwa yang indah bisa saja sirna sudikah kau menjemput rindu yang aku simpan? atau pantaskah aku menyimpan rindu untukmu? ku sebut namamu dalam doa semesta dan isinya pasti mendengar rintik hujan membantu menyempurnakan rasaku yang terlalu dalam untukmu

seperkawanan

Bukan maksutku untuk menganggu hidup mu.... Bukan pula maksutku untuk menjadi bagian dalam cerita hidup mu Seiring dengan hembusan angin di senja hari yang menafsirkan kedamaian, izinkan aku untuk memberikanmu sang pamit bukan, bukan selamat tinggal, hanya sampai jumpa sampai jumpa... semoga kita sampai pada titik dimana kita bisa berjumpa dengan keadaan hati yang biasa saja kamu yang sempat aku semogakan, memang tidak ditakdirkan untuk dikabulkan tidak peduli berapa banyak amin yang aku lantunkan, jika Tuhan tidak menghendaki, aku bisa apa? tapi, aku rasa kita sudah waktunya untuk melawan perasaan dan mencoba untuk berkawan

poem(s)

derasnya hujan menemani malamku mempermudah kinerja otakku ketika secara alamiah berfikir tentangmu terlintas bayangmu, bayangku, bayang kita yang masih menyatu tidak mau terperangkap lama dalam nostalgia, kemudian aku tau bahwa semua, telah terpecah tak lagi satu -sf- kembali aku terbangun dalam keadaan sendu semua penuh abu-abu kehadiranmu perhatianmu tutur katamu yang awalnya membuatku teduh, kini layu apakah ini sinyal darimu? agar aku bersiap diri, untuk kembali menjadi debu -sf- matahari menyapa ku balas dengan tawa kopi pertama di hari Selasa ku seruput dengan manja aromanya menyeruak, seolah memberi tanda bahwa yang pahit, juga bisa membuat bahagia -sf- jangan terlalu banyak bertanya, hei Dara kadang kata sudah tidak bermakna ketika hati dipenuhi oleh dusta pergilah saja bahagiamu, tidak padanya -sf- Bukan cuma soal cinta melainkan juga rasa ohya, pun dengan asa sepucuk asa yang berakhir luka karen...

Inner circle

Lingkaran pertemanan di setiap perjalanan hidup seorang anak manusia memang akan selalu bertambah besar. Pun yang aku rasakan hampir di setiap saat. Berkenalan dengan individu baru, bahkan yang kita tidak sangka-sangka akan menjadi seorang teman. Kecanggihan teknologi saat ini (re: sosial media) membuat pertambahan lingkaran pertemanan tersebut menjadi lebih mudah untuk bertambah. Banyak dari mereka yang memanggil individu lain dengan sebutan "teman" hanya karna berteman di platform sosial media. Tidak aku pungkiri, bahwa pertemananku memiliki taste yang berbeda dengan pertemananmu. Seru menurutku, belun tentu seru menurutmu, kan? Bisa dikatakan, aku memiliki lebih dari 1 lingkaran pertemanan. Masing-masing dari mereka memiliki cara bermain yang berbeda. Ada yang hanya suka pergi ke mall untuk sekedar melihat2 atau duduk2 cantik, ada yang selalu memberiku nasihat2 agama, bahkan, ada pula yang suka dengan kehidupan malam. Aku, menyesuaikan sedang berada dalam lingkaran y...

potretmu sangat mengganggu, deh.

Ketika memutuskan untuk mencoba menyembuhkan luka sendiri, yang aku lakukan adalah justru berpura-pura. Berpura-pura biasa saja Berpura-pura bahagia Berpura-pura tidak apa-apa Semua serba pura-pura Tapi, kepura-puraan membawaku menuju kesebuah kebiasaan. Bukan, bukan terbiasa berpura-pura, melainkan, aku sudah biasa untuk biasa saja, bahagia, tidak apa-apa, tanpa harus lagi berpura-pura. Dan ketika aku rasa aku sudah biasa saja terhadap kamu, lantas, mengapa melihat potretmu, masih suka menggetarkan hatiku?

bahagialah kamu

Terlalu banyak yang mengganggu pikiranku selama beberapa waktu belakangan ini. Membuat jemari lupa untuk menyentuh keyboard laptop untuk sekedar bercerita. Ingin sejenak aku pergi, menikmati deru angin, sendiri. Bertanya kepada semesta, apakah ia turut bertanggung jawab atas apa yang sedang aku alami saat ini? Cerita terakhirku menunjukkan betapa bahagianya aku saat itu, saat aku masih memilikimu, saat bahagiaku adalah kamu. Tapi ternyata, keadaan tidak memihak pada kebahagianku yang aku definisikan sebagai kamu. Kamu, yang selalu kusebut dalam doaku, memilih mencari kebahagianmu sendiri. Tanpa aku, yang katamu, telah menyakiti hatimu. Putus cinta, rasanya masih sama. sakit ya? hehe. hehe. Aku tidak butuh seseorang untuk membantuku menyembuhkan luka ini. Akan jauh lebih baik jika aku berusaha menyembuhkan lukaku sendiri. Tidak sopan rasanya menyuruh orang lain bertanggung jawab atas lukaku yang dibuat oleh kamu. Lebih baik, ketika aku sudah benar-benar baik, baru aku mencoba me...